Masa Iddah bagi Suami?


Selama ini masa iddah lebih lekat ditujukan untuk wanita, tentang penjelasan masa iddah silahkan lihat disini. Tapii... tahukah anda? Ternyata masa iddah juga ada lho buat para suami, karena ini pengetahuan baru bagi saya, maka saya tertarik untuk membuat postingan tentang hal ini. Ilmu baru ini saya dapatkan ketika saya sedang melihat hp, di layar utama hape saya, kan saya pasangin widget google reader, dan waktu itu pas judul yang lewat di widget bunyinya adalah "Ustadzku Bilang Suami Juga Punya Masa Iddah lo". Karena penasaran dengan judulnya jadi deh saya baca sampe selesai, alhamdulillah ilmunya jadi tambah lagi.

Baiklah, saya coba bawakan bahasannya disini. Masa iddah bagi laki-laki (suami) bisa terjadi untuk dua keadaan :
  1. Seorang suami yang memiliki empat istri, kemudian ia menjatuhkan talak pada salah satu istrinya, jika setelahnya ia ingin menikah lagi, maka suami ini harus menunggu sampai selesai masa iddah istri yang ditalaknya tersebut. Karena hakikatnya istri yang ditalaknya tadi jika belum selesai masa iddahnya maka masih terhitung sebagai istrinya, mana dalam masa iddah tersebut mereka boleh rujuk tanpa memperbaharui akad nikah mereka, sehingga jumlah istrinya masih tetap empat, dia diharamkan menikah lagi jika belum selesai masa iddah istrinya, karena ini akan menambah jumlah istrinya menjadi lima dalam satu waktu, dan hal ini terlarang bagi ummat Muhammad -shallaahu 'alaihi wasallam-  dari kaum laki-laki untuk menikahi wanita lebih dari empat dalam satu waktu ikatan pernikahan.                  

    Allah -subhaanahu wa ta'aala- berfirman:

    “Maka kawinilah wanita-wanita (lain yang kamu senangi, dua tiga, atau empat.  Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [QS. al-Nisaa’[04]:3]
  2. Seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian ingin menikahi wanita lain yang merupakan saudara kandung, keponakan, atau bibi baik dari pihak ayah atau ibu dari istri yang diceraikannya tersebut, maka laki-laki ini harus menunggu sampai masa iddah istri yang diceraikannya berakhir, sebagaimana poin nomor 1 diatas, karena dalam masa iddah tersebut wanita yang diceraikannya masih berstatus sebagai istrinya, dan seorang laki-laki tidak boleh menggabungkan dua wanita yang bersaudara dalam satu ikatan pernikahan.

    Firman Allah -subhaanahu wa ta'ala-:

    "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (An-Nisa': 23).

    Diriwayatkan dari Fairuz ad-Dailimi, ia berkata, "Aku datang menemui Rasulullah -shallaahu 'alaihi wa wasallam,. dan berkata kepadanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memeluk Islam dan aku memiliki dua orang isteri yang bersaudara (kakak adik).' Rasulullah -shallaahu 'alaihi wasallam- bersabda, 'Ceraikanlah salah seorang dari mereka yang engkau kehendaki (untuk dicerai)'," (Shahih, HR Abu Dawud [2243], at-Tirmidzi [1130] dan Ibnu Majah [1951]).


    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Tidak boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dari pihak ayah atau bibinya dari pihak ibu (dalam satu ikatan perkawinan)'," (HR Bukhari [5109] dan Muslim [1408]).
    Diriwayatkan dari Jabir radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam melarang seorang menikahi wanita bersama bibinya dari pihak ayah atau bibinya dari pihak ibu (dalam satu tali perkawinan)," (HR Bukhari [5108]).

    Demikianlah bahasan yang ana bisa simpulkan dari artikel yang ana baca, situs artikel tersebut ada disini. Semoga bermanfaat^^



tambahan referensi: silahkan tengok
0 Responses

Profilku

My Photo
Ternate, Maluku Utara, Indonesia
Hanya seorang ibu biasa, alfaqiirotun ilalloh dan mengharapkan kesudahan yang baik, aamiin. Blog ini hanya sekedar untuk mengumpulkan artikel-arikel bermanfaat yang saya copy paste, semoga kehadirannya dapat membantu tersebarnya ilmu yang berlandaskan Al-Qur'aan dan As-Sunnah dengan pemahaman SalafushSholeh