Showing posts with label Kisah Muslim. Show all posts
Showing posts with label Kisah Muslim. Show all posts

Pengaruh Jelek Sikap Kaku, Keras, dan Bakhil

Kekakuan dan kekerasan seorang suami terhadap istri terkadang mendorong sang istri berbohong, dan kebakhilannya terkadang juga mendorong istri untuk mencuri. Pengaruh lain dari sikap suami semacam ini adalah bila sang istri berbuat kesalahan akan segera menyembunyikan kesalahan dan berdusta di depan suami.

Syaikh Musthofa Al’Adawi pernah menerima surat dari seorang ibu rumah tangga yang meminta fatwa kepada beliau. Dalam suratnya ia mengisahkan seorang istri telah memendam dosa selama 17 tahun. Setiap kali teringat akan dosanya, ia merasa gelisah dan gundah gulana. Ia adalah seorang istri yang tinggal bersama suami dan ibu mertua dalam satu rumah. Mertuanya bersikap keras padanya dan menghukum semua kesalahan yang ia perbuat, bahkan ketika tidak bersalahpun ia sering mendapatkan amarahnya. Ibu mertua selalu memerinci pengeluarannya yang didalam maupun diluar rumah dan menanyakan berapa banyak makan dan minumnya.

Pada suatu hari sang ibu mertua menyuruhnya membeli seekor ayam. Dibelilah seekor ayam olehnya dan ia letakkan ayam itu di bawah kerudungnya dan menutupinya karena takut lepas. Akan tetapi ditengah perjalanan, ayam itu mati. Ia sangat takut dan bingung apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia masuk ke rumah secepatnya dan langsung menuju ke dapur. Ia sembelih ayam yang telah mati itu dan memasaknya.

Ia memanggil mertuanya, “Ya Ummu ‘Isham mari ke dapur”, tanpa menceritakan perihal ayam tersebut. Maka masuklah mertuanya ke dapur dan serta merta si ibu mertua melihat ayam yang telah ditaburi merica hitam dan bumbu-bumbu lainnya yang sedap baunya, sudah siap untuk dimakan. Berkatalah wanita itu kepada mertuanya, “Ya Ummu ‘Isham, demi Allah belum ada seorangpun yang mencicipi dagingnya dan meminum kuahnya. Silahkan dimakan sebelum datang anak-anak”. Dimakanlah masakan bangkai ayam itu oleh mertuanya sampai habis bersih.

Ibu rumah tangga tersebut bertanya apakah aku bisa bertobat?

Jawabnya, tentu bisa bertobat. Allah Ta’ala membuka pintu-pintu taubat dan tidak ditutup sampai matahari terbit dari barat. Ia membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berdosa di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berdosa di malam hari bertaubat. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Az-Zumar: 53)

Dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah akibat buruk yang ditimbulkan dari sikap keras dan kaku (dalam kehidupan keluarga khususnya). Adapun mengenai kebakhilan suami terhadap istri yang menyebabkan istri mencuri tertulis dalam kisah yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim [1], hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Hindun binti Utbah berkata,

“Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang kikir, tidak memberikan nafkah padaku dan anak-anakku dengan cukup kecuali bila aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuan darinya”.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah hartanya yang dapat mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik”.

Dinukil dari;

Fiqhul Ta’aammul baina aZ-Zaujani, Oleh Syaik Musthofa Al-‘Adawi.

(Romantika Pergaulan Suami Istri, Edisi Indonesia)

———-

[1]. HR. Bukhari (5364) dan Muslim (hal. 1339)

sumber: http://meilana.wordpress.com
READ MORE - Pengaruh Jelek Sikap Kaku, Keras, dan Bakhil

Perjalanan Pria Pemabuk dengan Pemuda Shalih

Maka berdoalah kepada Rabbmu
Jangan berputus asa dari rahmat-Nya
Jemputlah Hidayah itu...
Karena ia adalah teramat mahal
Takkan bisa kau menaruh harga padanya
Beruntunglah bagi siapa saja yang disapa olehnya...

Kisah yang akan anda baca ini adalah kisah nyata yag sangat menyentuh hati. Silahkan susuri perjalanan mereka tersebut dan ambillah hikmah darinya ...

******


Di sebuah kota di Saudi, seorang wanita tinggal dan hidup bersama suami dan anak-anaknya. Rumah mereka berdampingan betul dengan sebuah masjid. Namun disayangkan sekali, Allah mengujinya dengan seorang suami yang pemabuk.

Tidak berlalu satu atau dua hari, kecuali sang suami pasti memukulnya dan anak-anaknya, bahkan mengusirnya hingga ke jalan. Hampir semua warga di lingkungan tempat tinggal mereka sebenarnya sangat mengasihaninya dan anak-anaknya. Apalagi jika mereka melewati rumahnya. Hampir setiap hari mereka masuk ke masjid untuk menunaikan shalat, namun setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa memberikan bantuan apapun, meski dengan sebuah kalimat penghibur hatinya.



Betapa seringnya mereka melihat dan menyaksikan wanita malang itu bersama anak-anak kecilnya duduk di samping pintu rumahnya untuk menunggu sang suami yang pemabuk itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk, setelah sebelumnya ia mengusirnya bersama anak-anak. Namun itu hanya sebuah penantian yang sia-sia.

Akhirnya, jika wanita malang itu memastikan bahwa suaminya telah tidur, ia akan menyuruh salah seorang anak laki-lakinya untuk meloncat ke dalam dan membuka pintu rumah itu dari dalam. Ia akan segera masuk ke dalam rumahnya lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan menguncinya untuk menunggu hingga suaminya sadar dari mabuknya. Dan di situ, wanita malang itupun mulailah mengerjakan shalat dan menangis di hadapan Allah agar memberikan hidayah dan ampunan bagi suaminya.



Tidak seorang pun jamaah masjid itu -baik imam maupun muadzinnya- yang mampu berbicara kepada suami pemabuk itu dan memberinya nasihat, walau demi sang wanita dan anak-anaknya yang telah tersiksa dengan itu semua. Belum lagi bahwa mereka pun tahu pria pemabuk itu selain tidak takut kepada Allah dan suka mengganggu, ia juga mempunyai banyak masalah dengan tetangga-tetangga di lingkungan tinggalnya. Hatinya sangat keras.

Dan wanita malang itu tidak putus-putusnya mendoakan suaminya yang pemabuk itu di sepertiga akhir malam. Ia memohon kepada Allah dengan Nama-Nama-Nya yang mulia agar menerangi hati suaminya dengan hidayah iman. Hari-harinya ia gunakan untuk mendoakan yang terbaik bagi suaminya, sementara ia dan anak-anaknya terus merasakan siksaan itu dan tidak seorang pun yang mengasihani mereka atas semua musibah itu, selain Allah. Tidak ada saudara, ayah dan ibu yang mengayomi. Semuanya berlepas diri darinya. Semuanya tidak pernah merasakan kehadiran dan persoalannya. Ia seakan menjadi sosok yang terbuang dari tetangga dan keluarganya, akibat perilaku sang suami.



Pada suatu hari, ketika wanita malang itu mengunjungi salah seorang kawannya yang tinggal di lingkungan lain; kepada kawan yang mau membuka hatinya untuk mendengarkan keluh kesahnya itu ia menceritakan semua penderitaannya. Tentang apa yang dilakukan oleh suaminya kepada dirinya dan anak-anaknya ketika ia sedang dipengaruhi oleh minuman keras. Kawan itu sungguh bersimpati dengan apa yang dialaminya.

"Tenanglah, aku akan menyampaikan kepada suamiku agar menemui dan menasihatinya," ujarnya. Dan suaminya adalah pemuda shalih yang bijak, menyenangi kebaikan untuk orang lain. Ia juga menghafal Al Qur'an dan senang beramar ma'ruf nahi munkar.

Wanita yang malang itupun setuju dengan syarat kawannya itu tidak memberitahu bahwa dialah yang memintanya melakukan hal tersebut, karena jangan sampai suaminya yang pemabuk itu kemudian marah, memukulnya lalu mengusirnya keluar dari rumah ke jalanan untuk kesekian kalinya jika mengetahui itu semua. Sang kawan itu sepakat bahwa rencana ini adalah rahasia antara mereka berdua saja.

Usai shalat isya, suami sang kawan itu pun langsung pergi menemui suami wanita malang itu. Ia mengetuk pintu rumahnya dan tidak lama kemudian pria pemabuk itu keluar dengan langkah gontai karena mabuk. Ia membuka pintu dan ternyata disana ia menemukan seorang pria yang sangat bersih, jenggotnya panjang dan hitam, wajahnya memancarkan cahaya, dan kelihatannya usianya belum sampai 25 tahun. Sementara pria pemabuk yang usianya telah mencapai 40 tahun itu di wajahnya hanya nampak tanda-tanda kemarahan dan jauh dari Allah. Ia memandang sang pengetuk pintu rumahnya dan bertanya:
"Siapa kamu? Dan apa yang engkau inginkan?"
"Saya fulan bin fulan. Saya mencintai anda karena Allah dan saya sengaja datang untuk mengunjungi anda...," jawab pria muda itu dengan santun.



Namun, belum lagi ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pria mabuk itu meludahi wajahnya dan mengeluarkan cacian serta makiannya. "Semoga Allah melaknatmu, wahai anjing!! Ini bukan waktunya untuk berkunjung! Pergi sana!!" umpatnya penuh kemarahan.

Dari mulut pemabuk itu menyeruak aroma minuman keras,  hingga seakan-akan seluruh lingkungan itu dipenuhi dengan aromanya yang menjijikkan.

Pemuda shalih itu kemudian mengusap ludah yang menempel di wajahnya dan berkata: "Jazakallah khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Mungkin aku memang salah karena datang pada waktu yang tidak tepat. Tapi, saya akan datang lagi untuk mengunjungi Anda di waktu lain, insya Allah."

"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Jika engkau datang lagi, aku akan mematahkan lehermu!!" jawab pemabuk itu sambil membanting pintunya.

Sang pemuda shalih itupun kembali ke rumahnya sembari berkata: "Alhamdulillah, Allah telah memberikan ludah ini di jalan-Nya. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan mendapatkan cacian dan penghinaan ini dijalan agamaku..."

Di dalam hatinya, ia telah bertekad untuk menyelamatkan wanita itu beserta anak-anaknya dari penderitaan mereka. Ia merasa bahwa seluruh dunia ini akan membuka pintu untuknya jika ia dapat menyelamatkan keluarga itu dari kehancuran. Ia pun mulai mendoakan si pemabuk itu di saat-saat doa mudah dikabulkan. Ia memohon kepada Allah agar menolongnya untuk menyelamatkan  keluarga itu dari penderitaan abadinya. Kesedihan memenuhi rongga hatinya, dan kini yang menjadi obsesinya hanyalah bagaimana melihat si pemabuk itu termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah.

Ia kemudian berusaha mengunjungi pria pemabuk itu beberapa kali, namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali seperti yang sebelumnya ia telah dapatkan . Sampai akhirnya, pada suatu waktu, ia bertekad tidak akan pergi dari depan rumah pemabuk itu kecuali setelah berbicara dan menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Ia pun mengetuk pintu rumahnya dan pria pemabuk itu pun keluar dalam keadaan mabuk seperti biasa.

"Bukankah aku telah mengusirmu dari sini berkali-kali?! Kenapa engkau keras kepala dan selalu datang lagi padahal aku sudah mengusirmu?!!!" teriaknya.

"Benar sekali. Tapi aku mencintaimu karena Allah, dan aku ingin duduk denganmu meski beberapa menit saja, Sebab Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah mengatakan:
'Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah, maka akan menyeru penyeru di langit; 'Engkau telah melakukan kebaikan, dan langkahmu baik, maka engkau telah menempati surga sebagai tempat(mu).' (HR: At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Si pemabuk itu mulai malu di hadapan desakan pemuda itu yang terus menerus meski harus mendapatkan semua perlakuannya.

"Tapi sekarang ini aku sedang minum, sementara engkau, dari wajahmu kelihatannya engkau adalah orang shalih. Aku tidak mungkin membiarkanmu melihat botol-botol minumanku, karena itu tidak layak untukmu..." ujarnya mulai melembut.

"Tidak apa-apa! Biarkan aku masuk ke tempat minummu dan melihat semua botol-botol minumanmu. Biarkan kita mengobrol sambil engkau meminum minumanmu, sebab aku tidak datang kesini untuk melarangmu minum. Aku hanya datang untuk mengunjungimu saja..." kata pemuda itu.

"Kalau demikian, silahkan masuk..." ujar sipemabuk itu.

Maka untuk pertama kalinya, pemuda itu masuk ke dalam rumah itu setelah berkali-kali semua perlakuan buruk dan pengusiran. Dan ketika itu, ia merasa sangat yakin jika Allah menghendaki sesuatu yang baik untuk pria itu.

Pemabuk itu mengajaknya masuk ke kamar tempatnya mengonsumsi minuman keras. Kepada pemabuk itu, pemuda tadi mulai menyampaikan keagungan Allah, tentang apa yang disiapkan Allah untuk kaum beriman di surga dan untuk kaum kafir di Neraka dan tentang taubat. Bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat jika memohon hidayah pada-Nya. Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya. Jika seorang hamba-Nya yang pendosa bertaubat, maka Allah akan menjawab pintanya tiga kali dan tidak hanya sekali. Ia juga menyinggung pahala saling mengunjungi karena Allah.



Pemuda itu melihat air muka sang pemabuk menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Pemabuk itu diam mendengarkan apa yang ia sampaikan dengan tenang. Dan pemuda itu tidak sekalipun menyinggung soal khamr (minuman keras) dan keharamannya, meskipun ia tahu bahwa meminumnya adalah sebuah dosa besar. Sampai ia pulang, tak satu kalimat pun tentang khamr yang diucapkannya. Pemuda itu pulang setelah meminta kepada sang pemabuk itu untuk mengizinkannya untuk berkunjung dan berkunjung lagi. dan ia setuju. Pemuda itu pun pulang.

Beberapa hari setelah itu, sang pemuda kembali menemui sang pemabuk yang rupanya sedang mabuk. namun baru saja ia mengetukkan pintu rumah itu, segera saja sang pemabuk itu menyambut dan mempersilahkannya masuk ke tempat ia biasa meminum minuman kerasnya. Ia kemudian mulai berbicara tentang surga dan apa yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya. Ia memperhatikan bahwa si pemabuk ini sudah mulai berhenti meminum minumannya jika ia sedang berbicara.

Pemuda itu merasa semakin dekat dengannya dan perlahan-lahan ia mulai menghancurkan gelas demi gelas minuman keras itu di dalam hatinya perlahan-lahan. Dan ketidak berlanjutannya meminum adalah pertanda bahwa ia mulai memahami apa yang diucapkannya. Pemud aitu kemudian mengeluarkan sebuah botol parfum yang sangat mahal dari kantongnya. Ia memberikannya sebagai hadiah kepada si pemabuk itu dan segera keluar dari rumah tersebut. Hari itu, ia sangat bahagia dengan apa yang berhasil dilakukannya dalam kunjungan kali itu. Ada perkembangan yang berarti...

Beberapa hari kemudian, ia kembali mendatangi pria pemabuk itu dan ia menemukannya telah mengalami perubahan yang luar biasa. Meskipun ia masih dalam keadaan mabuk berat, namun keadaannya telah jauh berbeda.

Kali ini, setelah pemuda itu berbicara tentang Surga dan Neraka, pemabuk itu menangis seperti anak-anak sambil berujar: "Allah pasti tidak akan menerima taubatku! Allah pasti tidak akan mengampuniku! Aku ini membenci ulama, membenci orang-orang shalih, bahkan membenci semua orang! Bahkan membenci diriku sendiri! Aku ini binatang pemabuk! Allah tidak akan mau menerimaku, tidak akan mau menerima taubatku meskipun aku bertaubat. Kalau Allah mencintaiku, Ia tidak akan membiarkanku meminum minuman keras ini. Ia tidak akan membuatku dalam kondisi ini, kedurjanaan yang kujalani selama bertahun-tahun lalu..."

Sambil memeluknya, pemuda shalih itu berkata padanya:
"Allah akan menerima taubatmu. Dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa. Pintu taubat itu akan selalu terbuka, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangimu dengan Allah. Kebahagiaan itu sepenuhnya adalah dalam agama ini. Apa yang akan terjadi di hari esok pasti jauh lebih indah jika engkau memohon hidayah pada Allah dengan hati yang sungguh-sungguh. Tidak ada yang harus engkau lakukan kecuali memohon hidayah pada Allah dengan hati yang ikhlas. Allah pasti akan menerimamu..."

Ia kemudian mengatakan bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Makkah dengan beberapa orang kawannya. Ia menawarkan kepada sang pemabuk itu untuk ikut serta. Namun si pemabuk itu berkata: "Tapi aku ini pemabuk. Kawan-kawanmu pasti tidak mau aku menyertai mereka dalam perjalanan ini..."

"Jangan berpikir begitu! Mereka mencintaimu seperti aku juga demikian. Tidak akan menjadi masalah bagi mereka jika engkau menyertai mereka dengan kondisimu seperti ini. Kita akan pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah. Begitu selesai, kita akan segera kembali ke kota ini. kami akan sangat berbahagia dengan keberadaanmu di sepanjang perjalanan kami..." ujar pemuda shalih itu.

Sang pemabuk itu berkata, "Apakah kalian akan mengizinkan aku untuk membawa botol-botol minumanku bersama kalian, karena aku tidak bisa berpisah darinya sekejap pun?"

Dengan sangat gembira, pemuda shalih itu menjawab: "Bawalah bersamamu jika memang ia harus dibawa!"

Pandangan pemuda shalih itu sangat jauh ke depan, meskipun resikonya sangat besar jika ia membawa botol-botol minuman itu di dalam mobilnya. Apalagi dengan membawa serta seorang pemabuk dan dalam kondisi mabuk pula. Sebab perjalanan ke Makkah dipenuhi pos-pos  pemeriksaan polisi. Namun ia memilih untuk mengambil resiko itu demi menyelamatkan wanita malang itu bersama anak-anaknya. Karena siapa yang berusaha untuk mewujudkan suatu tujuan yang agung, semua masalah menjadi kecil dalam pandangannya.

"Bangunlah sekarang lalu mandi dan berwudhulah, kemudian kenakan pakaian ihrammu...," ujar pemuda itu pada sang pemabuk.

Pemuda itu keluar menuju mobilnya untuk mengambilkan pakaian ihram khusus miliknya untuk pria pemabuk itu. Biarlah ia nanti membeli yang lain lagi untuk ia kenakan. Setelah pria pemabuk itu mulai bersiap-siap, ia menemui istrinya dan berkata: "Aku akan pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah bersama beberapa orang Syaikh..."

Binar-binar kebahagiaan segera memancar di wajah wanita itu ketika mendengarkan ucapan itu. Ia segera menyiapkan tas suaminya. Pria pemabuk itu segera mandi dan mengenakan pakaian ihramnya, meski ia masih dalam kondisi mabuknya.

Pemuda shalih itu menyuruhnya bergegas, jangan sampai kemudian ia berubah pikiran lagi untuk tidak ikut serta bersama mereka untuk bersama-sama menunaikan umrah. Ia benar-benar tidak percaya telah mendapatkan kesempatan besar untuk hanya berdua dengan sang pemabuk itu dan menjauhkannya dari kondisi yang mengingatkannya untuk mabuk dan juga dari kawan-kawan jahatnya. Kalau saja ia sadar, boleh jadi ia tidak akan mau ikut atau setan akan berusaha menahannya dari pintu lain sehingga tidak mau ikut serta menunaikan umrah bersamanya. Setelah menghubungi kawan-kawannya, pemuda itu segera pergi menjemput mereka untuk bersama-sama pergi menunaikan umrah.



Tidak lama kemudian, mobil itupun meluncur menuju Makkah. Pemuda shalih itu yang menyetirnya dan disampingnya duduk pria pemabuk itu. Sementara di kursi belakang duduklah dua orang kawannya yang ikut serta bersama mereka. Sepanjang perjalanan ia terus membaca surah-surah pendek dan beberapa hadits Nabi dari kitab Shahih Al Bukhari, dan semuanya membahas tentang taubat.

Sementara pria pemabuk itu sama sekali tidak tahu bagaimana membaca surah Al Fatihah. Ketika giliran membaca itu sampai padanya, ketiga kawan perjalanannya itu harus membacakan surah itu tiga kali untuk membenarkan bacaannya yang salah tanpa harus mengatakan: "Kamu salah!" atau "Tidak masuk akal ada orang yang salah dalam membaca surah Al Fatihah." Demikianlah hingga akhirnya mereka selesai membaca surah-surah pendek beberapa kali dan juga membaca Hadits-hadits tentang keutamaan amal shalih, dan pria pemabuk itu mendengarkan dengan tenangnya...

Dan sebelum tiba di Makkah, ketiga sahabat itu sepakat bahwa mereka tidak akan masuk ke kota Makkah kecuali jika kawan pemabuk itu telah benar-benar sadar dari mabuknya. Mereka memutuskan untuk bermalam di salah satu tempat peristirahatan dengan alasan kelelahan dan ingin tidur dulu hingga Shubuh menjelang, untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Sang pemabuk itu mendesak mereka bahwa ia bisa menyetir mobil itu jika mereka ingin tidur di dalam mobil itu sepanjang perjalanan, karena ia tidak bisa tidur sama sekali. Namun mereka mengatakan: "Terima kasih, Jazakallah khairan dan semoga Allah memberkahimu. Tapi kami ingin menikmati perjalanan ini bersamamu. Biarlah  kita menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama."

Ia pun terpaksa menyetujuinya. Mereka akhirnya masuk ke salah satu tempat peristirahatan di pinggir jalan. Mereka menyiapkan sebuah alas tidur untuk kawan pemabuk mereka dan mereka sengaja mengaturnya tidur di antara mereka agar ia dapat melihat apa yang nanti mereka kerjakan. Mereka kemudian membahas etika tidur dan bagaimana mereka tidur sesuai dengan sunnah sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wasallam tidur. Kawan pemabuk itu memperhatikan dan mengikuti apa yang mereka lakukan, hingga beberapa menit kemudian ia pun tertidur dengan lelapnya.

Sebelum tiba waktu Shubuh, ketiga sahabat itu bangun dan mengerjakan shalat malam di sepertiga akhir malam. Mereka mendoakan kawan pemabuk mereka yang terlelap dalam tidurnya akibat pengaruh alkohol. Mereka sujud dan berdoa di hadapan Allah untuk memberikannya petunjuk dan mengembalikannya ke dalam agama-Nya dengan sebaik-baiknya. Ketika ia masih terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba ia terbangun dan melihat ketiga pemuda itu sedang mengerjakan shalat malam. Mereka menangis dan meratap di hadapan Allah. Tiba-tiba menyelusup  sebuah perasaan takut dalam dirinya. Ia mulai sadar dari mabuknya sedikit demi sedikit.

Ia terus mengawasi apa yang dilakukan oleh pemuda itu di waktu malam. Sementara ia dibalik selimutnya menyembunyikan tubuhnya yang rapuh, kegelisahannya yang berat serta rasa malunya yang begitu besar kepada para pemuda itu dan juga kepada Allah. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: "Bagaimana mungkin aku pergi bersama orang-orang shalih itu, mereka bangun mengerjakan shalat malam, menangis karena takut kepada Allah, mereka tidur dan makan seperti Sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam, sementara aku dalam kondisi mabuk!"

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepalanya hingga ia mulai tidak bisa melanjutkan tidurnya kembali. Dan tidak lama kemudian muadzin mengumandangkan adzan Shubuh. Ketiga pemuda itu kembali ke pembaringan mereka seakan mereka tidak pernah bangun sebelumnya.

Tidak lama kemudian, mereka pun membangunkan kawan pemabuk itu untuk shalat Shubuh. Mereka tidak tahu bahwa sejak tadi ia mengawasi apa yang mereka lakukan dari balik selimutnya. Ia pun bangun untuk berwudhu, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Subuh bersama ketiga pemuda itu. Kali ini sudah jauh lebih seimbang dari sebelumnya. Ia mengerjakan shalat Subuh bersama mereka, lalu kembali ke tempat istirahatnya bersama ketiga kawannya yang ia cintai karena sifat-sifat mulia dan keteguhan mereka berpegang pada agama dan memperlakukannya dengan hormat sebagaimana layaknya manusia. Dan ia belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya...



Setelah itu, mereka menyiapkan sarapan pagi dan berupaya berkhidmat melayani kawan pemabuk itu seakan dialah pemimpinnya dan mereka adalah para pembantu yang melayani dan memuliakannya. Dari waktu ke waktu, mereka berbicara dengan kalimat-kalimat yang indah, sehingga ia merasa sangat bahagia di tengah mereka. Ia mulai membandingkan keadaannya  diantara para tetangganya yang mengatakan sangat membencinya. Ia mendengarkan obrolan mereka tentang adab-adab makan.

Mereka kemudian makan apa yang ada hingga tiba waktu syuruq (terbitnya matahari).  Mereka lalu berdiri mengerjakan shalat dhuha, lalu kembali tidur hingga kurang lebih jam 10 pagi agar dapat meyakinkan bahwa kawan mereka yang satu itu benar-benar telah sadar sepenuhnya dari mabuknya dan kembali normal seperti sedia kala.

Setelah ia sadar kembali, barulah kawan pemabuk itu merasa malu dan tidak enak hati. Ia kemudian menarik kawan pemudanya dan berbisik: "Bagaimana mungkin engkau mengajakku dalam keadaan mabuk bersama para 'Syaikh' yang shalih itu? Mudah-mudahan Allah memaafkanmu! Lagipula aku menemukan botol minumanku ada di mobil. Siapa pula yang membawanya?"

Pemuda shalih itu menjawab: "Akulah yang membawanya setelah aku melihatmu bersikeras untuk membawanya dan engkau tidak akan ikut serta bersama kami jika engkau tidak membawanya!"

"Apakah kawan-kawanmu itu melihatnya?" tanya kawan pemabuk itu.

"Tidak. Mereka tidak melihatnya karena ia berada dalam sebuah kantong hitam," jawab si pemuda.

"Alhamdulillah, syukurlah jika mereka tidak melihatnya...," ujarnya.



Setelah itu, mereka pun bergerak menuju Makkah. Kawan pemabuk itu bersama mereka. Dan apa yang mereka lakukan terhadapnya pada awal perjalanannya itu pula yang mereka lakukan terhadapnya dalam perjalanan lanjutan itu. Mereka membaca surah-surah pendek dan hadits-hadits motivasi sepanjang perjalanan. Mereka memperhatikan bahwa kawan pemabuk itu sudah mulai membaca surah-surah pendek itu lebih baik dari sebelumnya. Banyak yang mereka baca sepanjang perjalanan itu hingga mereka tiba di Makkah dan memasuki Masjidil Haram. Dan mereka tetap memuliakan kawan pemabuk mereka itu dengan sebaik-baiknya...



Mereka melakukan thawaf dan sa'i, kemudian meminum air zamzam. Lalu kawan pemabuk itu meminta izin untuk pergi ke Multazam (dinding yang terletak di Ka'bah antara Hajar Aswad dengan Pintu Ka'bah). Mereka pun mengizinkannya, dan ia kemudian pergi kesana bersama pemuda shalih itu...

Ia berpegang di multazam dan mulai menangis dengan suara seakan tiang-tiang Ka'bah itu bergetar oleh tangisan dan ratapan pria pemabuk itu. Air matanya menetes membasahi pelataran Ka'bah. Pemuda shalih itu mendengar tangisannya, dan ia pun menangis seprti itu. Ia mendengarkan doanya, lalu mengaminkannya dari belakang...



Sebuah pemandangan yang menggetarkan hati jika engkau melihatnya. Pria mabuk itu berdoa kepada Allah agar berkenan menerima taubatnya. Ia berjanji pada Allah untuk tidak akan kembali pada minuman keras lagi dan ia memohon agar Allah mau menolongnya untuk itu. Tidak ada doa yang ia ketahui selain: "Ya Tuhanku, kasihinilah aku. Ya Tuhanku, aku sudah terlalu banyak melakukan dosa, maka kasihinilah aku, karena Engkau adalah Penguasa langit dan bumi. Jika engkau menolakku dari pintu Rahmat-Mu, maka kepada siapa aku harus kembali. Jika Engkau tidak menerima taubatku, maka siapa lagi selain-Mu yang akan mengasihiku. Duhai Tuhanku, sungguh pintu-pintu rahmat-Mu terbuka luas dan aku memohon pada-Mu jangan Kau menolakku sia-sia..."

Doanya benar-benar menggetarkan jiwa sampai-sampai membuat orang-orang di dekatnya ikut pula menangis. Tangisannya sungguh membuat terenyuh hati, seakan engkau merasa ruhnya telah lepas terbang menuju langit ketika ia mulai berdoa pada Tuhannya. Ia menangis dan memohon pertolongan hingga kawan pemudanya benar-benar merasakan keprihatinan yang sangat dalam. Ia terus berada dalam kondisi seperti ini  selama satu jam. Ia tak berhenti menangis, meratap dan berdoa kepada Allah, sementara kawan pemudanya ikut menangis dibelakangnya. Sebuah pemandangan yang luar biasa...

Seorang pria berusia lebih 40 tahun, bergantung di kain kiswah Ka'bah. Dan yang paling membuat hati tersentuh untuk menangis adalah doa yang diucapkannya: "Duhai Tuhanku, aku selalu memukul dan mengusir istriku jika aku larut dalam mabukku, ampunilah aku ya Allah atas semua yang kulakukan terhadapnya...

Ya Tuhanku, sesungguhnya kasih sayang-Mu meliputi segala sesuatu, dan aku mohon kepada-Mu, Tuhanku agar Engkau meliputiku dengan rahmat-Mu...

Tuhanku, aku berdiri di hadapan-Mu, maka jangan Engkau membiarkanku dengan tangan kosong...

Tuhanku, jika Engkau tidak mengasihiku, maka siapa lagi selain-Mu yang akan mengasihiku...

Ya Tuhanku, sungguh aku bertaubat, maka terimalah taubatku. Katakanlah padaku: 'Aku datang, Aku datang, wahai hamba-Ku!' Ya Tuhanku, kumohon jangan palingkan wajh-Mu dariku...

Wahai Tuhanku, lihatlah kepadaku, karena aku telah memenuhi bumi ini dengan airmata yang ada padaku...

Wahai Tuhanku, sungguh aku berdiri di hadapan-Mu, aku kini bertamu di rumah-Mu yang dimuliakan, maka jangan perlakukan aku seperti manusia memperlakukankukarena manusia itu jika aku meminta pada mereka, mereka menolakku bahkan meremehkanku...

Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, terangilah mata hatiku. Ya Allah, buatlah cahaya-Mu itu meliputiku, buatlah aku benci kepada minuman keras sepanjang hidupku...

Tuhanku, janganlah Engkau marah kepadaku dan janganlah Engkau murka padaku betapa seringnya aku membuat-Mu marah dengan dosa-dosaku yang tak terhitung. Aku durhaka padamu dan Engkau melihat apa yang kuperbuat..."

Disaat seperti itu, pemuda shalih itu memintanya agar mendoakannya pula kepada Allah. Tapi permintaan itu justru membuatnya semakin menangis, ia mengatakan: "Ya Tuhanku, apakah dari orang seperti aku diminta untuk mendoakan orang lain?!!

Ya Tuhanku, aku sungguh telah durhaka pada-Mu selama 25 tahun lamanya. Namun Engkau tak meninggalkanku dan membiarkanku tenggelam dalam dosa...

Tuhanku, aku adalah orang fasik dan berdosa, aku berdiri di pintu-Mu, maka jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang shalih...

Demikianlah ia terus meratap dan menangis. Engkau tak akan mendengarkan apa-apa selain suara yang diliputi kesedihan dan ratapan.

Muadzin mengumandangkan adzan Ashar. Mereka pun duduk untuk mengerjakan shalat, sementara sang pemabuk yang telah bertaubat itu masih saja bergantung di kain penutup Ka'bah, menangis hingga kawannya benar-benar kasihan padanya, lalu kemudian memapahnya untuk duduk di shaf orang-orang yang shalat agar ia dapat beristirahat dari tangisannya...

Pemuda itu memapahnya dan memelukknya seakan ia adalah ibu atau ayahnya. Ia pun mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Ashar yang semuanya diliputi tangisan dengan suara sesenggukan yang menyayat hati dan menggetrakan hati orang-orang di sekelilingnya. Sungguh, doa sang istri di tengah malam telah dikabulkan oleh Allah. Doa sang pemuda shalih itu juga akhirnya berbuah manis...



Begitu pula doa kawan-kawannya yang lain di waktu malam, semuanya telah mencapai tujuan yang ingin mereka capai dari perjalanan mereka itu. Benarlah bahwa doa itu dapat membuat seorang berubah menjadi sosok yang berbeda dalam sekejap saja...

Shalat pun selesai sudah ditunaikan. Mereka kemudian keluar dari Masjidil Haram untuk mencari hotel di dekat Masjid itu dan airmata masih saja mengalir memenuhi wajahnya...

Kebetulan salah seorang dari rombongan itu adalahseorang hafizh al Quran. Dan ia adalah orang yang sangat tawadhu, rendah hati dan murah senyum. Maka ketika ia melihat betapa besarnya perubahan kawan pemabuk mereka itu, ia pun semakin memuliakannya, sampai-sampai ia bersikeras untuk membawakan sendal sang pemabuk untuk dikenakannya di luar pintu Masjidil Haram. Tindakan dari sang Hafizh Al Quran ini menyeruakkan berbagai perasaan luar biasa yang hanya diketahui oleh Allah dalam hati sang pemabuk itu.

Mereka akhirnya menyewa kamar di sebuah hotel yang tidak jauh dari Masjidil Haram. Disana mereka tinggal selama lima hari dan pemabuk yang telah bertaubat itu setiap hari di waktu shalat datang ke Masjidil Haram, bergantung di Multazam, menangis dan membuat orang-orang di dekatnya ikut menangis. Dan di waktu malam, ia bangun untuk shalat dan menangis. Nyaris engkau tidak pernah melihatnya tidur. Siang hari ia menangis di Masjidil Haram, lalu di waktu malam ia bangun untuk shalat dan berdoa pada Allah dengan suara penuh tangisan.

Dan setelah perjalanan itu usai, mereka pun kembali ke kota mereka. Ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, 'sang pemabuk' itu meminta agar mereka berhenti sebentar. Mereka pun berhenti sebentar mengikuti permintaannya. 'Sang pemabuk' itu kemudian mengeluarkan botol minumannya dari kantong hitam di depan kawan pemudanya dan dua kawan lain yang menyertainya. Ia menuangkan semua isinya dan berkata: "Persaksikanlah hari yang sangat agung dalam hidupku ini, aku tidak akan kembali lagi meminumnya..." Ia menuangkan semua isinya sambil menangisi semua dosa yang telah ia lakukan.



Mata kawan-kawannya pun dipenuhi air mata. Mereka ingin berbicara namun mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Airmata jauh lebih kuat daripada sebuah ucapan. Mereka pun menangis. Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka. Kebisuan meliputi perjalanan itu, lalu suara sesengguk mulai terdengar dan tiba-tiba suara tangispun meliputi mereka...

Sebelum mereka akhirnya tiba di kota mereka, mereka berkata kepadanya: "Sekarang engkau akan masuk ke rumahmu dengan wajah berseri-seri, penuh kasih dan sayang kepada keluargamu..."

Mereka memberinya nasihat untuk memperlakukan anak istrinya dengan baik dan menjaga shalat berjamaahnya di masjid dekat rumahnya. Jika ia terus meniti jalan petunjuk dan taubat itu akan menjadi sebab ia mendapatkan rahmat Allah. "Demi Allah, aku tidak akan pernah mendurhakai Allah untuk selamanya," ujarnya.

"Insya Allah," ujar kawan-kawan seperjuangannya dengan airmata yang memenuhi kelopak mata mereka.

Ia akhirnya tiba di rumahnya. Ia masuk menemui istri dan anak-anaknya dan kondisinya telah benar-benar jauh berbeda. Sang istri tidak berusaha menyembunyikan rasa gembiranya atas apa yang ia saksikan. Ia menangis dan memeluk suaminya. Suaminya pun menangis dan mengecup keningnya. Ia kemudian mengecup anak-anaknya satu persatu sambil menangis.

Hari-hari selanjutnya ia penuhi dengan kehadirannya untuk shalat di masjid dekat rumahnya. Perlahan-lahan tanda-tanda kebaikan nampak di wajahnya. Jenggotnya ia pelihara dan nampak memutih. Wajahnya mulai memancarkan tanda-tanda kebahagiaan. Ia seperti baru dilahirkan kembali.

Begitulah hari demi hari berlalu, hingga suatu hari ia meminta kepada imam masjid untuk dapat membantu muadzin mengumandangkan adzan setiap hari. Sang imam menyetujuinya, hingga akhirnya sang muadzin resmi masjid itu meninggal dunia. Ia pun menggantikan kedudukannya. Ia juga mulai menghadiri majelis-majelis ilmu. Lalu ia memutuskan untuk menghafalkan Al Quran hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan hafalannya.Ia kemudian diangkat menjadi iamm Masjid di samping rumahnya, hingga hari ini.

(Sumber: 'Apakah Ada Yang Mengambil Pelajaran', Chicken Soup for Mulim, Penerbit Sukses Publishing)

Diposting oleh: Abu Fahd Negara Tauhid

A’isyah radhiyallahu ‘anha pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru setelah para sahabat kuat imannya, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan haram. Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan  khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan engkau berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609).

Ket: Foto diatas hanya illustrasi.
READ MORE - Perjalanan Pria Pemabuk dengan Pemuda Shalih

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu


Oleh : Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin


Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.

Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun dari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.

Anak ini tinggal di tengah saudara-saudaranya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama. Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara saudara-saudaranya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”

Mereka tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan.

Meskipun demikian, dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal. 

Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.

Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah, dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar. Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.

Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh, ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”

Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,

Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-. Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Allah. Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang kamu inginkan ….”

Tentu saja, aku menangis keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara, dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”

Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaianku seraya berkata, “Tawakal kepada Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”

Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudaraku hanya diam saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.

Aku pun berjalan sambil tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di belakangnya, sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku menyesali perpisahanku dengan keluargaku.

Setelah lewat sembilan hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang unta itu benar benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak sumur dan jamuan makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai semuanya dan masih merasa sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu. Dalam hati, aku berkata, “Bagaimana mungkin aku hidup di suatu negeri yang aku tidak mengetahui apa pun dan tidak mengenal siapa pun? Aku berangan-angan, andaikan aku bisa melihat, pastilah aku sudah berlari entah kemana … ke padang pasir barangkali. Akan tetapi, atas rahmat Allah, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu. Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada Syekh Abdurrahman Al-Qasim rahmahullah dan mereka katakan, “Ini orang asing, hidup sebatang kara.”

Syekh menghampiri aku, lalu menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana. Kemudian, beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka air mataku. Beliau berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku pun menceritakan kisahku kepada beliau.

“Kamu akan baik baik saja, insya Allah. Semoga Allah memberimu manfaat dan membuat kamu bermanfaat. Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan melihat nanti hal-hal yang menggembirakanmu di sisi kami. Kamu akan kami gabungkan dengan para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan kami beri tempat tinggal dan makanan. Di sana ada saudara-saudara di jalan Allah yang akan selalu memperhatikan dirimu.”

Aku menjawab, “Semoga Allah memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku tidak menghendaki semua itu. Aku ingin Tuan berbaik hati kepadaku, kembalikan aku kepada keluargaku bersama salah satu kafilah yang menuju Al-Qashim.”

Syekh berkata, “Anakku, coba dulu kamu tinggal bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau tidak, kami akan mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Allah.”

Selanjutnya, Syekh memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini dengan Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia dengan baik.”

Orang itu membimbing dan membawaku menemui dua orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut kedatanganku dengan baik dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku ceritakan kepada mereka berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah tinggal di situ karena harus berpisah dari keluargaku. Tak ada yang dilakukan kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku. Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama sama mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang kepada mereka. Keduanya selalu bersikap baik padaku. Semoga Allah memberi mereka dariku balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri belum juga terlepas dari kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku masih tetap menangis dari waktu ke waktu atas perpisahanku dengan keluargaku.

Kedua temanku itu tinggal di sebuah kamar dekat masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu bersama mereka. Pagi-pagi benar, kami pergi shalat subuh, lalu duduk di masjid mengikuti pengajian Alquran sampai menjelang siang. Syekh menyuruh kami menghapal Alquran. Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa saat, makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang (qailulah), dan sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti pengajian.

Demikian yang kami lakukan setiap hari hingga akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi sedikit, makin membaik dari hari ke hari, bahkan akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menghapal Al Quran, terutama setelah Syekh–rahimahullah–memberi dorongan dan perhatian khusus kepadaku. Aku pun melihat diriku mengalami kemajuan dan menghapal hari demi hari. Sementara itu, Syekh selalu mempertajam minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata, “Kenapa kalian tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan dan ketekunannya, padahal ia orang buta!”

Dengan kata-kata itu, aku semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan teman temanku dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah bulan, Allah ta’ala telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga dapatlah aku menikmati hidup baru ini.

Syahdan, setelah tujuh bulan lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam diriku,“Subhanallah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian, dan penghinaan, sedangkan aku merasa menjadi beban mereka?”

Demikianlah kehidupan yang aku jalani di Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan aku sudah dapat menghafal Alquran sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku ajukan hapalanku itu kehadapan Syekh sebanyak dua kali. Selanjutnya, Syekh mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syekh Muhammad bin Ibrahim dan Syekh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada mereka. Kemudian, guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam halaqah-halaqah ilmu. Adapun murajaah Alquran, dilakukan sehabis shalat subuh, kamu akan dipandu oleh Fulan. Sesudah magrib, kamu akan dipandu oleh Fulan.”

Sejak saat itu, mulailah aku menghadiri halaqah-halaqah dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu dengan kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah, Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh materi diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.

Sementara itu, aku sendiri, hari demi hari semakin merasa betah, semakin senang, dan tenteram hidup di lingkungan itu. Aku benar benar merasa bahaia mendapat kesempatan mencari ilmu. Sementara itu, agaknya orang tuaku di kampung selalu bertanya kepada orang-orang yang bepergian ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku beliau mendapat berita-berita tentang perkembanganku.

Demikianlah, alhamdulillah, aku berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati taman-taman ilmu. Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk menjenguk keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus perjalananku bersama seorang tukang unta. Dengan memuji Allah, aku pun berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka sangat gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama Ibuku–rahimahallah–. Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan aku katakan, “Aku kira, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih bahagia selain aku ….”

Ya, kini mereka melihatku dengan senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku menceritakan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang telah aku alami selama ini. Mereka senang mendengarnya dan memuji kepada Allah.

Setelah beberapa hari berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta izin untuk pergi meninggalkan mereka kembali. Mereka bersikeras memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku segera mencium kepada ayah-bundaku. Aku meminta pengertian dan izin kepada keduanya, dan alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.

Adapun dari teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang menceritakan, “Dia sangat rajin dan bersemangat dalam mencari ilmu, sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman seangkatannya. Sangat banyak ilmu yang dia peroleh. Adapun hal yang sangat ia sukai adalah apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan kepadanya sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang berdiskusi dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hapal yang sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.

Tatkala umunya mencapai 18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan santri santri kecil dan agar menyuruh mereka menghapalkan beberapa matan kitab.

Ketika Fakultas Syariah Riyadh dibuka, beberapa orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia mengikutinya, dan dengan demikian dia, termasuk angakatan pertama yang dihasilkan oleh fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk menjadi tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.

Pada akhir hayatnya, dia pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan lewat tangannya muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi hakim, orator, guru, direktur, dan sebagainya.

Pada tiap musim haji, dia tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping kesibukannya sebagai pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi nafkah kepada keluarganya dan saudara saudaranya, dan dapat pula membantu kerabat-kerabatnya yang lain.

Adapun saudara saudaranya yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka mendapatkan kebaikan yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada yang kebetulan tidak pandai mencari uang.

Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

***

artikel muslimah.or.id

Disalin dari buku berjudul “Obat Penawar Hati yang Sedih“, karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin. Penerbit: Darus Sunnah.

copas dari blog ummu zaid
READ MORE - Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu

Profilku

My photo
Ternate, Maluku Utara, Indonesia
Hanya seorang ibu biasa, alfaqiirotun ilalloh dan mengharapkan kesudahan yang baik, aamiin. Blog ini hanya sekedar untuk mengumpulkan artikel-arikel bermanfaat yang saya copy paste, semoga kehadirannya dapat membantu tersebarnya ilmu yang berlandaskan Al-Qur'aan dan As-Sunnah dengan pemahaman SalafushSholeh