|
Tiada mutiara sebening cinta..Tiada sutra sehalus kasih sayang..
Tiada embun sesuci ketulusan hati..
• · ♡·♥ ♥·♡ · • ° Innii Uhibbuki Fillaah ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)... (Ayu Syifa')
اَلْحُبُّ فِي اللهِ شَجَرَةٌ شَامِخَةٌ رَاسِخَةٌ
تَنْبُتُ فِي القُلُوْبِ الطَّاهِرَةِ
تُسْقَى بِالعِلْمِ وَتَحْلُو بِالصِّدْقِ
وَتَكْبُرُ بِحُسْنِ الظَّنِّ
ثَمَرَتُهَا مَنَابِرٌ مِنْ نُوْرٍ يَوْمَ القِيَامَةِ
هَلْ نَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا ثُمَّ نَقُوْمُ بِحَقِّهَا؟
تَنْبُتُ فِي القُلُوْبِ الطَّاهِرَةِ
تُسْقَى بِالعِلْمِ وَتَحْلُو بِالصِّدْقِ
وَتَكْبُرُ بِحُسْنِ الظَّنِّ
ثَمَرَتُهَا مَنَابِرٌ مِنْ نُوْرٍ يَوْمَ القِيَامَةِ
هَلْ نَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا ثُمَّ نَقُوْمُ بِحَقِّهَا؟
Persaudaraan dan percintaan yang didasari ikhlas karena
Allah ibarat pohon yang menjulang tinggi ke langit dan
akarnya menghunjam ke bumi
Pohon tersebut tumbuh di hati hati yang suci
Pohon tersebut disirami dengan ilmu, terasa manis
dengan kejujuran dan menjadi besar dengan baik sangka
Buahnya mimbar dari cahaya di hari Kiamat
Apakah kita siap bernaung di bawah pohon tersebut?
Apakah kita siap melaksanakan hak-hak persahabatan?
Allah ibarat pohon yang menjulang tinggi ke langit dan
akarnya menghunjam ke bumi
Pohon tersebut tumbuh di hati hati yang suci
Pohon tersebut disirami dengan ilmu, terasa manis
dengan kejujuran dan menjadi besar dengan baik sangka
Buahnya mimbar dari cahaya di hari Kiamat
Apakah kita siap bernaung di bawah pohon tersebut?
Apakah kita siap melaksanakan hak-hak persahabatan?
(Surat-surat Cinta, hal 45, Fariq Gasim Anuz, Cet. 2, 2010, Penerbit: Darus Sunnah, Jakarta).... (Ust. Fariq)
